2014 Guru Minimal Sarjana S1
Written By SieR on Wednesday, February 17, 2010 | 4:32 PM
(Newsroom Kalsel) - Untuk meningkatkan mutu dan kualitas guru, maka pada tahun 2014 mendatang semua guru sudah memiliki jenjang pendidikan terakhir minimal Starata 1 atau S1.
“kebijakan Pemerintah Provinsi pada tahun 2010 di bidang pendidikan, memprioritaskan peningkatan mutu guru dan sertifikasi kompetensi guru kata Gubernur Kalsel Haji Rudy Ariffin ketika bersilaturahmi dengan jajaran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) di Gedung Olahraga Karias Amuntai Sabtu (13/02)
Silaturahmi tersebut turut dihadiri Bupati HSU H Aunul Hadi, Pengururs PGRI Prov Kalsel, dan 2000 orang guru pengajar semua jenjang pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah. Baik dari lingkungan kerja Dinas pendidikan maupun dari kementerian agama.
Kebijakan Pemprov tersebut sebut Rudy sesuai dengan komitmen bersama antara Mendiknas, Gubernur, dan Bupati/Walikota pada tahun 2005 lalu. dimana terdapat empat pilar utama yang perlu menjadi perhatian pemerintah hingga tahun 2014, seperti penuntasan buta aksara, Wajib belajar sembilan tahun, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, serta peningkatan mutu guru dan sertifikasi kompetensi guru.
Program prioritas kebijakan peningkatan mutu guru dan sertifikasi kompetensi guru, dengan meningkatkan jenjang pendidikan guru dari D2 menjadi S1 sebanyak 300 orang guru. Bila ditambahkan dengan yang dibiayai pemerintah pusat sebanyak 300 orang guru, maka menjadi 600 orang.
“Sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah pusat, kita tambah 300 orang guru melalui APBD Kalsel. Ditargetkan pada tahun 2014 semua guru di kalsel telah memiliki pendidikan minimal S1”ujar Rudy.
Rudy Ariffin calon incomben pada pemilu kada juni 2010, saat silaturahmi hadir bersama pasangannya H Rudy Resnawan, mendapatkan apresiasi khusus dari jajaran PGRI HSU, dengan menyatakan kebulatan tekad untuk mendukung pasangan Dua Rudy melalui pembubuhan tandatangan pada selembar kain putih.
(Sumber : Biro Humas Setdaprov. Kalsel edisi Rabu, 17 Februari 2010)
Tarbiyah Menurut Syaikh Albani
Written By SieR on Monday, February 8, 2010 | 9:35 AM
Sebuah makalah oleh Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman hafidzahullah.
إن الحمد لله نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهد الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
Segala puji semata-mata hanya untuk Allah azza wa jalla, kami memuji, meminta ampun, dan meminta perlindungan dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami semata-mata hanya kepada Allah azza wa jalla. Siapa yang di beri hidayah oleh Allah maka tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak akan ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya.
Kesungguhan Syaikh Albani rahimahullah di dalam bidang tashfiyah (pemurnian agama) dalam berbagai bidang ilmu telah nampak jelas diketahui.Adapun yang belum banyak digali adalah kaidah-kaidah dan pemikiran-pemikiran beliau di bidang yang kedua, yakni tarbiyah (pendidikan). Tashfiyah dan tarbiyah adalah dua syiar yang senantiasa didengungkan serta ditekuni beliau.
Tidak diragukan lagi bahwa perkataan Syaikh Albani rahimahullah dan pemikiran-pemikirannya dalam masalah tarbiyah ini bermacam-macam, terbagi-bagi dan tersebar (dibeberapa tempat).Maka untuk menjawab orang yang memusuhinya diperlukan usaha untuk mengumpulkan, menghimpun dan menseleksi untuk kemudian dikompilasi berdasarkan metode yang khusus, sehingga menjadi satu kitab tersendiri dan tiada ternilai harganya yang bisa mendatangkan manfaat bagi orang-orang yang mencintainya, anak-anaknya, murid-muridnya yang telah dikumpulkan dalam madrasah atsar dan yang menisbahkan kepada salafus sholeh.
Kebutuhan terhadap pengumpulan (pemikiran Syaikh) mengenai permasalahan tarbiyah ini semakin besar bersamaan dengan berjalannya waktu dan banyaknya fitnah disebabkan oleh beberapa hal diantaranya:
Pertama,
Pentingnya penjelasan pada sisi kedua (tarbiyah) dari dua syiar ishlah (perbaikan) yang senantiasa didengungkan Syaikh Albani di sela-sela perkataan , ketetapan, dan pemikiran-pemikirannya.
Kedua,
Keselamatan di dunia dan akhirat dalam beramal berdasarkan pada pondasi ilmu yang benar. Bukanlah sebuah ilmu melainkan sebagai perantara dalam beramal. Ilmu merupakan sebab sedangkan amal adalah buah dari ilmu. Syaikh Albani telah menjelaskan hal tersebut dalam banyak majelis-majelisnya.
Ketiga,
Ilmu dapat mewujudkan kebahagiaan jiwa.Ini berbeda dengan amal,karena amal sulit diwujudkan kecuali bagi siapa yang diberi taufiq. Telah kami dengar dan saksikan (bahkan kami hidup bersama mereka) beberapa gelintir penuntut ilmu yang terkadang di antara mereka pun turut serta dalam tashfiyah dan tarbiyah dengan penulisan kitab dan pemeriksaannya,akan tetapi amal perbuatan dan sikap mereka buruk[1], menghalang-halangi dakwah yang penuh barokah ini serta menghalangi manusia untuk menerima dakwah ini. Orang-orang yang hatinya sakit dan tamak terhadap dunia ini menyebarkan dan mendengungkannya kepada para masyayikh dan orang-orang yang ikhlas dalam membela dakwah ini.
Orang-orang yang memiliki manhaj yang menyimpang (terutama kelompok takfiri) menjadikan permasalahan Syaikh Albani dalam bidang tarbiyah ini sebagai dalil atas rusaknya al manhaj as salafi dan menyebut bahwa pengikutnya adalah kaum murji’ah yang tidak peduli terhadap maksiat. Kelompok Murji’ah ialah kelompok yang mengatakan bahwa dosa itu tidak merusak keimanan.
Kebohongan dan kedustaan ini telah tersebar dan telah aku jelaskan kebatilannnya dalam muqodimah buku saya Juhudul Imam Al-Bany fi Masailil Iman billahi Ta’ala (Kesungguhan Imam Al Bani dalam Masalah Iman kepada Allah Ta’ala) yang dicetak oleh Pustaka Atsariyah.
Keempat,
Besarnya kebutuhan para penuntut ilmu pada umumnya dan salafiyyun pada khususnya terhadap pelajaran tarbiyah yang mengajarkan tata cara dan metode dalam bermuamalah dengan orang lain terutama apabila pelajaran ini tegak di atas perkataan Syaikh Albani rahimahullah, maka hal tersebut – tidak diragukan lagi- lebih mudah diterima masyarakat.
Kelima,
Perlunya penjelasan betapa dalamnya pemikiran Syaikh Albani dalam tarbiyah dan bahwasanya selain beliau seorang yang alim, beliau juga seorang pembaharu dan murobbi (pendidik). Hal ini untuk membantah tuduhan dusta yang dilontarkan oleh musuh-musuh dakwah salafiyah pada umumnya dan orang-orang yang dengki kepada Syaikh Albani pada khususnya bahwa beliau hanya mengajarkan akan tetapi tidak mempunyai andil untuk mendidik murid-muridnya, meskipun tuduhan ini bisa saja benar pada sebagian orang.
Oleh karena itu perlu diperhatikan hal-hal penting sebagai berikut ini, yaitu :
1. Beberapa kalangan membuat keragu-raguan bahwa Syaikh Albani tidak mempunyai murid di Yordania.
Faktor pendorongnya adalah hasad (dengki) yang membakar hatinya.Namun sudah merupakan sunnatullah adalah terbongkarnya kebathilan dan jelasnya kerancuan kebathilan tersebut.
(Satu contoh) ada seseorang melalui sebagian program televisi menyebarkan khabar bahwasanya tidak ada satupun murid Syaikh Albani di Yordania. Padahal orang ini sendiri pernah melalui wawancara telepon dengan majalah “Al Furqon” dari Kuwait menjelaskan kunjungan beberapa murid Syaikh Albani seraya mengatakan bahwa disisinya telah hadir murid Albani yang paling utama dan mulia ….dan dia pun menyebut nama-nama mereka. Pertemuan ini merupakan pertemuan terakhir mereka (murid-murid Syaikh Albani) dengannya ,dikarenakan manhajnya berubah. Saya tidak mengetahui apakah orang ini memiliki dua ucapan atau hanya mempermainkan dua orang ulama. Sebagaimana yang mereka katakan! Dan tidaklah aku katakan seperti ini melainkan untuk memberitahukan kedustaan ini.
Banyak hal di benakku untuk kutulis kedustaan-kedustaan yang mengherankan.Semoga aku dapat membuat tulisan ini sehingga pelaku kebathilan tidak terus-menerus berada diatas kebathilan mereka.
Ada contoh lain kedustaan dengan model yang berbeda dari seseorang seperti yang pertama diatas. Dia memiliki cinta di antara lembah-lembah kebahagiaan. Dan bergerak dibelakang ambisi kekuasaan dan kemashlahatan yang fana atas nama dakwah yang rendah. Aku tidak bisa membayangkan ada seorang yang menisbahkan dirinya kepada dakwah yang penuh barokah ini yang tegak di atas wahyu, lalu berdusta dan membolak-balikkan fakta, menuduh orang lain dengan tuduhan palsu dan kebohongan, bukan karena lalai atau lupa, akan tetapi dengan kesengajaan dan mempunyai maksud tertentu serta menyebarkan tuduhan dan syubhat yang merusak kehormatan manusia, mengeluarkan siapa saja dan kapan saja yang dikehendaki dari dakwah ini.
Beberapa hari yang lalu ada seorang da’i salafy dari Maroko. Celakalah, orang yang menuduh da’i ini. Ketika orang yang menuduh ini diungkap kesalahannya, dia lantas membid’ahkan da’i asal Maroko tersebut. Lalu dia – dengan tujuan agar tetap ada padanya setelah strategi dalam dakwahnya (yaitu siyasah, bukan dakwah) diungkap di negara tempat dia tinggal- membid’ahkan dengan tanpa rasa malu dan sombong serta akhlak dan tarbiyah yang buruk ,juga tanpa kaidah ilmiyah dan cara yang syar’i, kecuali demi kekuasaan, keuntungan dan kedudukan. “ Dan orang-orang yang dzalim kelak akan tahu kemana mereka akan kembali”(QS. Asy Syu’ara:126).
Seandainya aku mau untuk merinci bathilnya dua (contoh) perkara dan metode yang mengatasnamakan ilmu, tashfiyah dan tarbiyah ini ,pasti dibutuhkan kertas dan pena yang banyak,dimana saya tidak mampu menuliskannya. Dan saya kasihan kepada pembaca, pendengarannya menjadi tuli karenanya.
Dan tidaklah saya membuat tulisan ini melainkan karena kebutuhan yang mendesak, meskipun seharusnya membutuhkan perincian. Saya kerjakan ini sebatas kebutuhan saja. Dan kepada Allah lah tempat mengadu dari hilangnya kesungguhan dan waktu di dalam perkara ini.
Ringkasnya dari apa yang disampaikan diatas, adalah peringatan terhadap apa yang telah diperingatkkan oleh Salaf. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitab “Ighotsatul Lahfan” (2/160) setelah kalimat “ dan untuk itu, dahulu para salaf mengatakan: berhati-hatilah dari dua golongan manusia, pengikut hawa nafsu yang terfitnah oleh hawa nafsunya dan pengikut dunia yang dibutakan oleh dunianya.”
Disinilah terdapat tipu daya yg halus dari setan dan para pengikutnya yaitu menampakkan keburukan dengan sesuatu yang baik dan mengajak manusia kepada hal itu.Hanya orang yang pandai yang dapat terlepas dari tipudaya ini.Apabila ia telah mendekat, ia jatuhkan kepadanya syubhat.
Dinukil pula dari Ibnul Qoyyim dalam “Iddatush Shobirin” hal. 50 “Maka berhati-hatilah saudaraku tercinta, semangatlah! Semoga Allah menyelamatkan agama dan manhajmu dari pemikiran yang beraneka ragam dan berpindah-pindah manhaj, karena itu merupakan manhajnya ahlul bid’ah.”
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam “Thoriqul Hijrotain” hal.602 “Dan diantara sifat-sifat mereka, banyaknya pemikiran yang beraneka ragam, cepatnya berubah, tidak istiqomah. Ketika engkau melihatnya dalam keadaan yang membuatmu kagum dalam agama, ibadah, petunjuk, dan kejujuran, lalu tiba-tiba berubah kepada keadaan sebaliknya seakan-akan dia tidak mengenal selainnya dan dia orang yang paling besar perubahannya.”
2. Sesungguhnya orang yang merusak dan mencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil adalah orang yang menanggung dosa amal perbuatannya di dunia dan akhirat. Syaikh Albani tidak akan diadzab karena kesalahan orang lain baik dari murid-muridnya yang mempunyai hubungan lama atau sesaat ataupun yang mengaku muridnya namun tidak ada bukti yang menjelaskan dia berguru pada beliau, melainkan hanya pengakuan omong kosong.
3.Bahwasanya kebanyakan murid-murid Syaikh Albani dikenal dengan kebaikan akhlaknya dan semangat dalam kebaikan kepada sesama manusia dan tawadlu, istiqomah , hatinya selamat, aqidahnya benar dan bersemangat dalam (menghidupkan) sunnah.
4.Sesungguhnya Syaikh Albani diketahui tarbiyahnya dari orang-orang yang pandai terkemuka. Bukan dari segelintir orang, untuk menjadi ukuran. Dan tidak dibenarkan menjadikan dalil atas perkataan yang tidak adil itu. Betapa seringnya kita dengarkan Syaikh kita Albani rahimahullah mengulang-ulang syair[2]
غيري جنى وأنا المعذَّب فيكم فكأنني سُبَّابة المتندّمِ
Orang lain telah berbuat dosa, dan aku diadzab karenanya
Seakan-akan aku ini orang yang suka mencaci
Sebagai pelajaran yang besar, Allah menceritakan kepada kita kisah iblis. Bahwasanya dia pada mulanya bersama para malaikat, kemudian dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala, maka dia tidak bisa sombong lagi di surga Allah ‘Azza wa Jalla. Barang siapa takabbur[3] tidak ada baginya kedudukan dalam dakwah ini kecuali pada barisan belakang. Dan dijauhkannya dari tanggung jawab sesuai dengan sunnatullah kauniyah dan syar’iyyah,bukan dengan perkara-perkara hizbiyyah dan aturan-aturan yang penuh tipu daya
5.Seyogyanya menutup celah kesempatan dari maksud orang-orang yang selalu mengatakan bahwa “Syaikh Albani mengajar tetapi tidak mendidik”, karena tidak ada tujuan dari orang-orang yang mendustakan dan mengatakan demikian melainkan menghalang-halangi manusia dari dakwah Syaikh Albani dan keterangan-keteranganya serta menimbulkan keragu-raguan pada dakwah yang penuh barokah ini. Maka janganlah menjadi orang yang lalai dan menjadi jembatan bagi orang-orang yang dzolim.
6.Wajib bagi murid-murid Syaikh rahimahullah meskipun mereka berbeda derajat dan ilmu mereka agar menyatukan tujuan mereka dalam menyebarkan dakwah beliau dan hendaklah sadar bahwa tingkah laku mereka dihitung sebagai bagian dari dakwah yang penuh barokah ini. Perbedaan yang besar biarlah tetap ada di antara mereka dan mereka bersatu di atas perselisihan orang-orang yang membuat makar (tipu daya) kepada mereka yang menjadikan dakwah sebagai tujuan untuk kepentingan dunia kecuali jika menampakkan taubat dan diketahui keistiqomahannya.
7. Orang-orang yang menisbahkan diri mereka sebagai murid Syaikh Albani memiliki kadar ketaqwaan, tarbiyah, ilmu, mulazamah, umur, manhaj dan hidayah yang tidak sama atau bertingkat-tingkat . Mereka pun berbeda tujuan dan berbeda dalam pencapaian hasil. Sedikit dari mereka yang menjaga waktunya untuk benar-benar menuntut ilmu, belajar dan mengajarkan, mengkhususkan waktunya untuk itu serta mencurahkan segala tenaganya dalam bidang ini,sebagaimana yang telah dilakukan Syaikh Albani rahimahullah. Dan juga ada tingkatan, sebagian besar dari mereka dari kalangan pemuda-pemuda dakwah pada masa sekarang, mereka belum pernah bertemu dengan Syaikh, belum mengetahui petunjuk dan kemuliaan beliau dan belum membaca kitab-kitab dan metode penelitian beliau serta belum mengambil hukum-hukum yang dipilih beliau.Meskipun mereka pernah melihat Syaikh sebentar, ada banyak keragu-raguan atau sebagiannya yang tampak pengaruhnya pada akhlak mereka.(Namun) hal ini tidak menjadikannya kami tergesa-gesa dalam memperbaiki, mendidik dan menjaga mereka, tidak pula menjadikan kami menghukumi Syaikh bahwa beliau “mengajarkan ilmu namun tidak mendidik”. Dan kami tidak melampaui batas dan mensifati mereka bahwa mereka adalah murid-murid Syaikh Albani.Apalagi (jika) berdasarkan pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam “Majmu’ Fatawa” (11/512), beliau berkata : Setiap orang yang mengambil ilmu agama kepada orang lain, maka dia adalah gurunya.Setiap orang yang telah meninggal jika perkataan, perbuatan dan pengaruh-pengaruh yang dia amalkan dalam agamanya sampai kepada manusia, maka dia adalah gurunya dari sisi ini. Maka salaful ummah (orang-orang yang terdahulu), adalah guru bagi orang yang datang belakangan beberapa kurun setelahnya.Namun tidaklah orang yang menisbahkan dirinya kepada seorang Syaikh, meletakkan loyalitas dan antiloyalitasnya kepada gurunya saja, tetapi kepada siapapun yang beriman.
Dan yang penting : Seseorang tidak boleh merasa puas dengan apa yang tidak ia dapatkan (ilmu), hendaklah dia memperbaiki niatnya ketika menyandarkan dirinya kepada seorang Syaikh dan mengetahui kadar kedudukannya. Kami telah teruji oleh beberapa orang yang mencintai Syaikh maupun yang mengkritiknya dimana mereka menjadikan hal tersebut sebagai tangga untuk kepentingan tertentu, dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan Allah.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمي
(Ditulis oleh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman setelah sholat Ashar, pada hari Kamis 11- 06 -1430 H)
Sumber :Website Fadhilatusy Syaikh Masyhur Hasan Salman
METODE DAN MATERI PENDIDIKAN
PENDAHULUAN
Dalam makalah yang kami susun ini, kami mencoba untuk mengkaji tentang salah satu unsur proses pendidikan, yaitu mengenai metode dan materi pendidikan. Dalam uraian yang akan kami bahas dalam makalah ini yaitu ; pentingnya sebuah metode dan materi dalam pendidikan agar mencapai suatu tujuan sesuai dengan kurikulum yang dicanangkan, ada sebuah pernyataan bahwa “metode lebih utama dari pada materi” karena metode itu bagaikan roh, sedangkan materi adalah raganya. Apa gunanya kemapanan sebuah materi tanpa disertai dengan cara yang baik dalam penyampaiannya.
Sedangkan pembahasan dalam makalah ini bersifat ringkas dan praktis, sekedar menyebutkan dan membahas masalah yang sangat penting dan lebih banyak membahas tentang metode pendidikan serta mengkhususkan pada pembahasan mengenai metode dan materi pendidikan. Sebelum itu kami sedikit mengulas pandangan dasar filosofis dan pandangan dasar teoritis mengenai metode pendidikan serta penjelasan mengenaik materi pendidikan.
PEMBAHASAN
METODE DAN MATERI PENDIDIKAN
Pengertian Metode Pendidikan
Mangenai metode pendidikan sejauh refrensi yang kami baca tidak dapat kami temukan definisi yang menyeluruh dan saling melengkapi. Atau menurut ahli logika tidak terdapat definisi yang melingkupi (genera) dan membatasi (differentia). Namun dengan definisi etimologi dan penjelesan tokoh sekaligus pendefinisian al-Qur’an kiranya bisa membentuk sebuah definisi yang sesuai dengan jiwa dan falsafah pendidikan.
Secara bahasa metode berasal dari dua perkataan “meta” dan “hodos.” “meta” berarti ”melalui.” Dan ”hodos” berarti ”jalan atau cara”, bila ditambah “logi” sehingga menjadi “metodologi” berarti “ilmu pengetahuan tentang jalan atau cara yang harus dilalui” untuk mencapai tujuan, oleh karena kata “logi” yang berasal dari kata yunani (Greek) “logos berarti akal” atau “ilmu”.
Dalam pernyataan beberapa tokoh Edgar Bruce Wesley mendefinisikan metode dalam bidang pendidikan sebagai: “rentetan kegiatan terarah bagi guru yang menyebabkan timbulnya proses belajar pada murid-murid, atau ia adalah proses yang melaksanakannya yang sempurna menghasilkan proses belajar, atau ia adalah jalan yang dengannya pengajaran itu menhadi berkesan.”
Prof. Saleh Abd. Aziz dan Dr. Abd. Aziz Abd. Majid meminjam dua makna metode pengajaran dari pendidik Amerika Kilpatrick, yaitu makna yang sempit yang bertujuan menyampaikan maklumat, dan makna yang luas dan menyeluruh, yaitu memperoleh mklumat-maklumat ditambah dengan pandangan, kebiasaan berpikir dan lain-lainnya. “Dan pandangan-pandangan atau sikap ini seperti cinta pada ilmu, guru dan sekolah, menghormati dan mencintai orang lain, dan bergantung pada diri sendiri”.[1]
Metode menurut Imam Barnadib adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji dan menyusen data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut, maka usaha pengembangan metode itu sendiri merupakan syarat mutlak.[2]
Dengan demikian metode adalah cara untuk mencapai sebuah tujuan dengan jalan yang sudah ditentukan, dalam metode pendidikan dapat diartikan sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai kurikulum yang ditentukan.
Apabila ditarik pada pendidikan islam, metode dapat diartikan sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran, yaitu pribadi islami.
Adapun al-Qur’an secara eksplisit tidak menjelaskan arti dari metode pendidikan karena al-Qur’an bukan ilmu pengetahuan tentang pendidikan. Namun kata metode dalam bahasa arab yang lebih mengenak dibahasakan dengan kata Attariqoh banyak dijumpai dalam al-Qur’an. Menurut Muhammad Abd al-Baqi didalam al-Qura’an kata Al-Tariqah di ulang sebanyak sembilan kali. Kata ini taerkadang dihubungkan dengan objek yang dituju oleh Al-Tariqah. Seperti nerka, sehingga menjadi jalan menuju neraka (Q.S. : 4:9), terkadang dihubungkan dengan sifat dari jalan tersebut, seperti al-tariqah al-mustaqimah, yang diartikan jalan yang lurus (Q.S. 46:30). Dan terkadang al-Qur’an tentang sifat dari jalan yang harus ditempuh itu, dan terkadang pula berarti suatu tempat.
Dengan demikian, metode atau jalan oleh al-Qur’an dilihat dari sudut objeknya, fungsinya, akibatnya, dan sebagainya. Ini dapat diartikan bahwa perhatian al-Qur’an terhadap metode demikian tinggi, dengan demikian al-Qur’an lebih menunjukkan isyarat-isyarat yang memungkinkan metode ini berkembang lebih lanjut.
Dengan berlandaskan pada tiga definitive diatas dapat kami tegaskan bahwa metode pendidikan merupakan sebuah mediator yang mengolah dan mengembangkan suatu gagasan sehingga menghasilkan suatu teori atau temuan untuk menyampaikan sebuah visi pendidikan kepada tujuannya.
Fungsi Metode Pendidikan
Metodologi pendidikan secara umum dapat dikemukakan sebagai mediator pelaksanaan operasional pendidikan. Secara khusus biasanya metodologi pendidikan berhubungan dengan tujuan dan materi pendidikan dan juga dengan kurikulum. Dengan bertolak pada dua pendekatan ini dapat dikatakan bahwa metode berfungsi mengantarkan pada suatu tujuan kepada obyek sasaran tersebut.
Metodologi pendidikan harus mempertimbangkan kebutuhan, ketertarikan, sifat dan kesungguhan para pesrta didik dan juga harus memberikan kesempatan untuk mengembangkan kekuatan intelektualannya. Pendidik dalam memberikan pelajaran atau mendidik peserta didik harus bisa memberi keleluasaan sehinnga peserta didik dapat berperan aktif dalam proses belajar mengajar.
Dalam menyampaikan materi pendidikan perlu ditetapkan metode yang didasarkan kepada pandangan dan persepsi dalam menghadapi manusia sesuai dengan unsure penciptaannya, yaitu, jasmani, akal, dan jiwa yang diarahkan menjadi orang yang sempurna dengan memandang potensi individu setiap peserta didik, oleh karena itu pendidik dituntut agar memahami aspek sikologis dan karakter setiap peserta didik, sebagaimana yang telah dipesankan oleh pemikir besar al-Gazali dan Ibn Kholdun.
Dari sini jelaslah bahwa metode sangat berfungsi dalam menyampaikan materi pendidikan, bahkan ada sebuah adagium yang menyatakan bahwa “metode lebih utama dari pada materi (al-taiqah aula min al-madah)” disebabkan materi itu bagaikan raga yang harus digerakkan oleh jiwa. Tanpa adanya penggerak yang membawa pada tujuan maka proses pendidikan tidak akan tecapai secara maksimal.
Macam-macam Metode Pendidikan
Dalam menguraikan macam-macam metode pendidikan ini kami akan memaparkan dari tiga sudut pandang, dan selanjutnya akan memaparkan macam-macam metode penyampaian materi pendidikan.
Adapun tiga sudut pandang tersebut, yaitu, petama metode yang umum (secara tradisional) dikuasai oleh semua pendidik, kedua metode yang secara khusus dipelajari oleh pendidik, dan yang ketiga metode yang khusus digunakan untuk menilai pelaksanaan program pendidikan.
1. Metode Yang Umum
Metode ini sudah dikenal dan dikuasai oleh semua pendidik melalui pengalaman dan sudah digunakan tanpa ada pendidikan atau diklat khusus. Metode ini mencakup latihan dan meniru, yaitu, melatih anak didik menguasai tujuan tertentu dengan disertai peniruan. Dalam metode ini pendidik sudah menguasi materi yang akan disampaikan pada peserta didik dan sudah dipraktekkan sendiri.
Metode ini digunakan dalam pendidikan di keluarga, lingkungan tetangga, dan juga disekolah dalam rangka pembentukan kebiasaan, pola tingkah laku, keterampilan, sikap, dan keyakinan.
2. Metode Yang Secara Khusus Dipelajari Oleh Pendidik
Pendidik harus mempunyai kematangan dalam metode-metode. Dia harus menguasai ilmu pengajaran (didaktik) untuk menguasai metode-metode mengajar seperti ceramah, diskusi, bermain peran dan sebagainya.
Seorang pendidik tidak serta-merta bisa mentransformasikan materi pendidikan dengan baik tanpa menguasai metode-metode khusus, dan dia tidak akan bisa menguasai metode tersebut tanpa adanya spesialisasi sebuah disiplin ilmu, seperti wawancara, studi kasus, dan observasi yang harus dipelajari oleh calon knselor sebagai bimbingan dan konseling.
3. Metode Yang Khusus Digunakan Untuk Menilai Pelaksanaan Program Pendidikan.
Pada umumnya metode ini disebut dengan metode penelitian pendidikan, jadi metode ini digunakan dalam rangka pengembangan dan kemajauan pendidikan, antara lain dari metode ini adalah survai, eksperimen yang menggunakan alat ukur seperti tes, wawancara, observasi, kuesioner.[3]
MATERI PENDIDIKAN
Pengertian Materi Pendidikan[4]
Pendidikan dilaksanakan didalam suatu kesatuan hidup bersama(masyarakat). Sifat sosial manusia menajadi dasar bagi kesatuan hidup bersama itu, dan makna kehidupan manusia ditentukan oleh nilai-nilai hidup (nilai-nilai kemanusiaan) yang mendasari persatuan hidup bersama itu.
Nilai-nilai kemanusian tidak lain dari pengalaman dan penghayatan manusia mengenai hal-hal yang berharga bagi hidup manusia. Pengalaman dan penghayatan ini melekat dalam perbuatan manusia yang membawa kebahagian dan kesejahteraan. Proses pendidikan membawa anak didik mengalami, menghayati perbuatan yang membawa kebahagian dan kesejahteraan bagi hidupnya bersama orang lain.
Tujuan akhir pendidikan adalah anak didik menjadi pribadi dewasa susila; pribadi yang memiliki, menghayati dan melaksanakan nilai-nilai kemanusian dalam hidupnya. Oleh Karena itu Driyarkara menyatakan bahwa pendidikan merupakan pengajaran dan pelaksanaan nilai-nilai. Jadi, isi pendidikan adalah ialah tindakan-tindakan yang membawa anak didik mengalami, mengahayati nilai-nilai kemanusian, sehingga anak didik membangun nilai-nilai kemanusian dalam keperibadiannya.
Macam-macam Materi Pendidikan
Manusia mengkristalisasikan dan mengintegrasikan pengalaman, penghayatannya mengenai hal-hal yang berharga bagi hidupnya menjadi suatu pandangan hidup, sehingga tersusun dalam satu kesatuan suatu kesatuan yang hirarkis, yang disebut sistem nilai. Pandangan hidup ini bisa merupakan padangan hidup suatu bangsa, seperti pancasila bagi bangsa Indonesia. Pandangan hidup bisa juga ditinjau dari segi ilmu pengetahuan tertentu, minsalnya psikologi, filsafat. Berikut ini dikemukan pandangan dari Abraham Maslow, salah seorang tokoh aliran psikologi humanistik.
Abraham Maslow mengemukakan pandangannya tentang kebutuhan manusia, yang tersusun dalam suatu kesatuan yang hirarkis. Susunan hirarkis itu menjunjukan bahwa pemenuhan kebutuhan pada tingkat tertentu, akan menjadi dasar bagi usaha seseorang untuk memenuhi kebutuhan pada tingkat berikutnya. Hirarki kebutuhan menurut Maslow,(dari bawah ke atas) ialah:
a. Kebutuhan fisiologis seperti makanan, minuman, tidur.
b. Kebutuhan rasa aman seperti tubuh yang sehat, terlindung dari bahaya,
c. Kebutuhan saling mencintai,
Dalam teks pembahasan ilmu pendidikan berikut ini akan dikemukakan pandangan Driyarkara tentang nilai-nilai yang utama dalam pendidikan. Driyarkara menyatakan bahwa nilai-nilai meruapakan kesatuan yang perlu dicapai secara utuh, karena berharga bagi kehidupan manusia rohani maupun jasmani. Heararki nilai-nilai pendidikan (dari bawah keatas) ialah:
1. Nilai jasmani (vital) seperti makanan, minuman, pakaian, perumahan.
2. Nilai keindahan (seni) seperti bahagia dengan mengalami barang-barang yang bagus, yang indah.
3. Nilai kebenaran seperti pengetahuan, pengertian (ilmu pengetahuan).
4. Nilai kesusilaan (nilai moral) yaitu cinta sejati terhadap sesame, menghormati sesame.
5. Nilai relegius (nilai aagama) yaitu pengakuan terhadapat tuhan yang maha Esa.
Menurut Driyarkara nilai-nilai 1 sampai dengan 3 merupakan nilai sarana (nilai medial) artinya selamanya dipandang dan dikejar demi kesuluruhan struktur manusia. Sedangkan nilai 4 dan 5 merupakan nilai kesempurnaan (nilai final) yang fundamental dan merupakan kesempurnaan manusia sebagai pribadi rohani-jasmani.
Diatas sudah disinggung bahwa pendidikan ialah tindakan-tindakan yang membawa anak didik mengalami, menghayati nilai-nilai kemanusiaan, sehingga anak didik membangun nilai-nilai kemanusiaan dalam kepribadiannya. Dalam pengertian ini selanjutnya kita membahas macam-macam materi pendidikan dengan membedakan tindakan-tindakan yang menitik beratkan pengalaman, penghayatan dan pengalaman anak didik dalam masing-masing nilai tertentu (kita mengikuti pandangan Driyarkara) yaitu pendidikan jasmani dan keterampilan, pendidikan seni (keindahan), pendidikan intelektual (kecerdasan), pendidikan moral, dan pendidikan relegius (agama).
a. Pendidikan Jasmani dan keterampilan
Kegiatan-kegiatan pendidikan yang mengutaman pertumbuhan fisik yang sehat, kelincahan, keterampilan, mengunakan anggota badan berkaitan dengan makanan, minuman, udara segar, istirahat, pakaian, perumahan, sex. Tujuannya agar anak didik menerima, menghargai, merawat dan melatih tubuhnya. Contoh kegiatannya seperti membersihkan badan secara teratur. Membersihkan lingkungan tempatt tinggal, bermain, berolah raga, latihan kerja tangan, makanan yang bersih secara teratur, istirahat. Semua ini dimului sejak masa bayi dan kanak-kanak di dalam keluarga, dan dilanjutkan di sekolah lewat bidang pelaaran olh raga dan kesehatan.
b. Pendidikan seni (kesenian)
Kegiatan-kegiatan pendidikan yang mengutamakan tumbuhnya rasa seni, senang akan keharmonisan, keteraturan dan kebutuhan dalam diri anak. Tujuannya agar anak didik mengembangkan rasa keindahan. Contoh kegitannya seperti mengatur rak buku, lemari, kamar tidur, ruang tamu, taman, menggambar, sudah dimulai sejak masa kanak-kanak di dalam keluarga, dan dilanjutkan di sekolah dengan tugas membersihkan kelas, halaman sekolah, dan bidang pelajaran kesenian dan lingkungan hidup.
c. Pendidikan intelektual (kecerdasan)
Kegiatan-kegiatan pendidikan yang mengutamakam realisasi kemampuan intelektual anak didik dalam memecahkan masalah kongkrit yang dihadapi sehari-hari. Tujuannya agar anak didik mengembangkan kemampuan berpikir dan cara mengatasi persoalan secara tepat. Contoh kegiatannya seperti belajar menguasai bahasa, menyatakan pengertian (pendapat), yang sudah dimulai sejak kanak-kanak didalam keluarga, dilanjutkan di sekolah, terutama dalam berbagai bidang pelajaran akademis.
d. Pendidikan moral (kesusilaan)
Kegiatan-kegiatan pendidikan yang mengutamakan berkembangnya kesadaran diri, pemahaman akan orang lain, lingkungan serta moral yang dianut masyarakat. Tujuannya agar anak didik mengerti diri dan kedudukannya sebagai masyarakat, mampu berhubungan dengan orang lain secara wajar, memahami apa yang baik dab apa yang buruk dan memiliki kata hati untuk dapat menentukan sendiri mana yang baik yang harus dilakukan, dan mana yang buruk yang harus tidak dilakukan sesuai dengan norma yang ada. Contoh kegiatannya seperti bertingkah laku yang baik, memahami alasannya sudah dimulai di dalam keluarga, dan dalam lingkungan tetangga, teman bermain, dan dilanjuntkan di sekolah lewat bidang pelajaran budi pekerti, ppkn, hukum, dan berbagai kegiatan sosial seperti pramuka, disiplin kelas (sekolah).
e. Pendidikan religious (agama)
Kegiatan-kegiatan pendidikan yang mengutamakan pembentukan keyakinan rohani akan kehidupan kekal, hubungan pribadi dengan tuhan yang maha esa. Tujuannya agar anak didik mengalami, menghayati keagungan, kemuran tuhan bagi hidupnya. Contoh kegiatannya seperti pendidikan pengetahuan agama, berdoa sendiri, berdoa bersama di rumah dan di tempat ibadat mulai dilakukan di dalam keluarga, kelompok keagamaan, dan dilanjutkan di sekolah lewat bidang pelajaran agama, dan perbuatan-perbuatan tertentu seperti berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, mengheningkan cipta, berdoa bagi para arwah pahlawan.
PENUTUP
Metode adalah cara untuk mencapai sebuah tujuan dengan jalan yang sudah ditentukan, dalam metode pendidikan dapat diartikan sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai kurikulum yang ditentukan.
Metode sangat berfungsi dalam menyampaikan materi pendidikan, bahkan ada sebuah pernyataan bahwa “metode lebih utama dari pada materi (al-taiqah aula min al-madah)”.
Dalam menerangkan tentang metode kami memaparkan dari tiga sudut pandang, dan selanjutnya memaparkan macam-macam metode penyampaian materi pendidikan. Adapun tiga sudat pandang itu, pertama adalah metode yang umum dipahami oleh semua pendidik, yang kedua adalah metode yang secara khusus dipelajari oleh pendidik, dan yang terahir adalah metode yang khusus digunakan untuk menilai pelaksanaan program pendidikan.
Ada empat dasar secara umum yang menjadi pijakan kami dalam merumuskan metode pendidika, yaitu, dasar agama, dasar biologis, dasar psikologis, dan dasar social.
Isi pendidikan adalah ialah tindakan-tindakan yang membawa anak didik mengalami, mengahayati nilai-nilai kemanusian, sehingga anak didik membangun nilai-nilai kemanusian dalam keperibadiannya.
Tentang nilai-nilai yang utama dalam pendidikan, Driyarkara menyatakan bahwa nilai-nilai meruapakan kesatuan yang perlu dicapai secara utuh, karena berharga bagi kehidupan manusia rohani maupun jasmani.
Macam-macam materi pendidikan dengan membedakan tindakan-tindakan yang menitik beratkan pengalaman, penghayatan dan pengalaman anak didik dalam masing-masing nilai tertentu yaitu pendidikan jasmani dan keterampilan, pendidikan seni (keindahan), pendidikan intelektual (kecerdasan), pendidikan moral, dan pendidikan relegius (agama).
DAFTAR PUSTAKA
Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, Surabaya: Rineka Cipta, 1992.
Wens Tanlain, Inggridwati Kurnia, A. Samana, G. Hardjanto, Kusdarwati, Joseph Niron, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Buku Panduan Mahasiswa, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Cet. 2, 1996.Zakiyah Darajat, DKK, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif, Yogyaakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.
Omar Mohammad al-Tomy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Muhammad Quthb, System Pendidikan Islam, Bandung: PT. al-Ma’arif, Cet. 1, 1984.
Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan Sisitem dan Metode, Yogyakarta: Andi Offset, 1997.
[1] Muhammad Quthb, System Pendidikan Islam, Bandung: PT. al-Ma’arif, Cet. 1, 1984.
[2] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan Sisitem dan Metode, Yogyakarta: Andi Offset, 1997.
[3] Langeveld, 1971: pasal 60; Meichati, 1976: hal. 147-153; 172-180.
[4] Wens Tanlain, Inggridwati Kurnia, A. Samana, G. Hardjanto, Kusdarwati, Joseph Niron, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Buku Panduan Mahasiswa, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Cet. 2, 1996, Hal. 86
Kementerian Pendidikan Bantah Akan Berdirinya Universitas Kristen di Mesir
Kementerian Pendidikan Tinggi Mesir membantah laporan yang menyatakan bahwa Gereja Katolik Mesir akan membangun universitas kristen katolik internasional seperti Universitas Al-Azhar, yang rencana peletakan batu pertama bangunan perguruan tinggi akan dilaksanakan pada akhir tahun 2010 ini, dan bantahan ini juga sekaligus membantah rumor bahwa pihak gereja telah memperoleh izin yang diperlukan dari Departemen Pendidikan Tinggi dan universitas swasta.
Surat kabar Kuwait Times yang mengutip seorang sumber dari internal Gereja Katolik Mesir - menegaskan bahwa tidak ada kemajuan dari permohonan pembangunan universitas Kristen, sumber tersebut mengatakan bahwa "Tidak ada dasar untuk mengajukan permohonan untuk pendirian Universitas Kristen, ia menyatakan bahwa desas-desus ini tidak berdasar, namun pada saat yang sama sumber tersebut menolak berkomentar mengenai kebenaran rencana pendirian universitas Kristen itu.
Laporan media sebelumnya mengutip pernyataan dari pihak internal gereja Katolik menyatakan bahwa pihak gereja berencana akan segera membangun universitas kristen Katolik di Mesir pada akhir tahun 2010 ini. Lokasi universitas akan di bangun di kota Alexandria yang terletak di pesisir laut Mediterania Mesir, yang juga kota tersebut merupakan salah satu bekas pusat penyebaran ajaran Kristen di masa Hellenistik.
Sumber tersebut juga menerangkan, pada mulanya pihak Gereja Katholik berencana untuk mendirikan cabang Universitas Liverpool di Mesir. Universitas Liverpool sendiri memiliki reputasi sebagai perguruan tinggi keuskupan katholik internasional.
Ditambahkannya, beberapa targetan lebih jauh dari didirikannya Universitas Kristen Mesir itu adalah berdirinya 170 sekolah katholik di Mesir yang akan dinaungi oleh universitas tersebut.
Jumlah penganut sekte Katholik di Mesir (Katholik-Koptik) sendiri saat ini mencapai sekitar 300 ribu jiwa, dari total penduduk 80 juta. Angka tersebut mengecualikan jutaan warga Koptik Mesir yang bermigrasi ke luar negeri, yang dikenal dengan sebutan Aqbath al-Mahjar (Koptik Imigran). Mereka tersebar di berbagai negara, utamanya Amerika, Kanada, Australia, dan negara-negara Eropa.(fq/aby)(eramuslim)
Seminar Istilah Skripsi Pendidikan Bahasa Arab 2009
Written By SieR on Sunday, February 7, 2010 | 5:46 PM
Pada hari Selasa, 22 Desember 2009, bertempat di Auditorium fakultas tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab mengadakan seminar dengan tema Pemantapan Istilah Pedoman Penulisan Skripsi Berbahasa Arab. Acara secara langsung di buka oleh dekan Fakultas Tarbiyah Bpk.Prof DR.H.Syaifuddin Sabda. M. Ag.
Dekan FT dalam sambutannya mengapresiasi penuh acara yang diselengarakan oleh jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) tersebut. Ia juga mengharapkan agar rekomendasi yang dihasilkan dalam seminar ini segera ditindaklanjuti dengan diadakannya lokakarya agar menghasilkan pedoman yang baku dalam penulisan skripsi berbahasa Arab.
Seminar dihadiri oleh sejumlah Dosen dan juga para pakar bahasa arab dari civitas akademika IAIN Antasari dari berbagai fakultas, antara lain Prof.Dr. H. Dra. Juairiah, M.Pd, Prof. Dr. H. Mahyuddin Barni, M.Ag, Drs. H. Ahmad Zamani, M.Ag, Dr. Hadariansyah, dan lain-lain. Seminar tersebut diisi oleh dua pemakalah yang pertama Drs. Abu Qosim, M.Ag dengan judul Format Penulisan Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, dan pemateri yang ke dua oleh Taufiqurrahman, S.Ag, M.Ed dengan judul المصطلحات العربية فى كتابة البحوث العلمية . Setelah penyajian kedua materi, acara dilanjutkan dengan sesi dialog serta tanya jawab, dan selanjutnya acara ditutup dengan resmi oleh PD I Fak. Tarbiyah Bpk.Drs.H. Aswan Zain, M.Pd.(iain-antasari.ac.id)
Workshop Metodologi Pembelajaran
Written By SieR on Saturday, February 6, 2010 | 9:21 PM
Disadari bahwa tantangan pendidikan ke depan sangat komplek seiring dengan kemajuan dan tuntutan zaman. IAIN Antasari sebagai institusi di tingkat perguruan tinggi yang mengemban amanat terhadap kualitas pendidikan juga bertanggungjawab terhadap profesionalisme tenaga pendidiknya. Oleh karenanya untuk menyahuti semua itu, pada tanggal 27 Januari 2010 di gedung MDC (Madrasah Development Center) Kanwil Departemen Agama Kalimantan Selatan diadakan Workshop Metodologi Pembelajaran di Perguruan Tinggi.
Acara yang berlangsung 4 hari hingga tanggal 30 Januari 2010 itu diikuti oleh 30 orang tenaga dosen dari berbagai fakultas di IAIN Antasari. Dalam sambutannya Rektor IAIN Antasari menegaskan bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Agama, pelatihan ini merupakan syarat bagi dosen untuk menguasai metodologi pengajaran dan meningkatkan profesionalisme. Maka diharapkannya agar peserta secara disiplin dan tekun mengikuti acara penting tersebut hingga akhir.
Selanjutnya, acara workshop berakhir dengan terlebih dahulu dilakukan oleh micro teaching. Kesan mendalam disampaikan oleh peserta saat penutupan yang didampingi oleh panitia yakni bapak Drs. H. M. Amin Jamaluddin, MA.(iain-antasari.ac.id)




