Latest Post
Showing posts with label Dakwah. Show all posts
Showing posts with label Dakwah. Show all posts

Akhirnya, Sisa Perahu Nabi Nuh Ditemukan di Gunung Turki?

Written By SieR on Tuesday, April 27, 2010 | 4:24 PM


TEMPO Interaktif, London - Sisa-sisa perahu Nabi Nuh ditemukan di ketinggian 13 ribu kaki atau sekitar 3,9 kilometer di sebuah gunung di Turki. Hal tersebut diungkapkan para penjelajah evangelis.

Sekelompok penjelajah evangelis dari Turki dan Cina mengatakan mereka menemukan sisa-sisa kayu dari perahu Nabi Nuh di Gunung Ararat di sebelah timur Turki.

Kelompok penjelajah tersebut mendaku dari data karbon kayu tersebut menunjukkan berusia 4.800 tahun. Artinya, waktu tersebut sesuai dengan berlayarnya Perahu Nabi Nuh. Para evangelis dan sebagian peneliti sejak lama menduga Gunung Ararat sebagai tempat terakhir berlabuhnya perahu Nabi Nuh.

Yeung Wing-Cheung, anggota tim peneliti Kependetaan Internasional Masalah Perahu Nabi Nuh yang melakukan pencarian tersebut, mengatakan, "Itu bukan 100 persen bisa dinyatakan sebagai perahu Nabi Nuh. Tetapi kami rasa 99,9 persen itu merupakan perahu Nabi Nuh."

Dalam beberapa dekade ini, ada berbagai penemuan yang diklaim sebagai perahu Nabi Nuh. Yang paling terkenal adalah penemuan arkeolog Ron Wyatt pada 1987. Wyatt mengklaim menemukan sisa perahu Nabi Nuh di Ararat. Saat itu, pemerintah Turki secara resmi mengumumkan kawasan penemuan Wyatt sebagai taman nasional.

Namun, kaum evangelis bersikeras penemuan terbaru mereka di Gunung Ararat merupakan artefak yang sesungguhnya. Untuk mengkonfirmasikan itu, tim telah memanggil peneliti dari Belanda, Gerrit Aalten.

"Keutamaan dari penemuan ini adalah untuk pertama kali dalam sejarah penemuan perahu Nabi Nuh terdokumentasikan dengan baik dan diungkap ke khalayak di seantero dunia," ujar Aalten saat jumpa pers penemuan tersebut. "Ada banyak bukti-bukti akurat yang menunjukkan bahwa struktur yang ditemukan di Gunung Ararat di Turki bagian timur adalah perahu Nabi Nuh," ujar Aalten.

Perwakilan dari Kependetaan Internasional Masalah Perahu Nabi Nuh mengatakan struktur yang terkandung di beberapa bagian, beberapa balok kayu, diduga merupakan bagian dari perahu yang dipakai sebagai kandang bermacam hewan. Tim arkeolog evangelis juga menyatakan tidak mungkin ada permukiman di kawasan tersebut.

Anggota tim penjelajah, Panda Lee, mengatakan, "Pada Oktober 2008, saya memanjat gunung tersebut dengan tim dari Turki. Di ketinggian sekitar lebih dari 4.000 meter, saya melihat ada struktur bangunan yang terbuat dari papan seperti kayu gelondongan. Tiap papan memiliki ketebalan 8 inchi. Saya melihat tenons, bukti konstruksi kuno sebelum paku besi ditemukan."

Pejabat lokal akan meminta pemerintah pusat Turki mengajukan penemuan itu masuk dalam UNESCO WOrld Heritage agar situs tersebut bisa dilindungi seiring dengan penggalian arkeologi secara besar-besaran.

Menurut beberapa kitab suci, Tuhan memutuskan untuk membanjiri bumi dengan air setelah melihat kondisi dunia yang buruk. Tuhan lalu meminta Nuh untuk membangun sebuah perahu besar dan mengisi perahu tersebut dengan manusia dan hewan.

Menurut kitab suci, setelah banjir surut, perahu Nabi Nuh terdampar di sebuah gunung. Banyak orang menduga Gunung Ararat, titik tertinggi di kawasan tersebut, sebagai tempat labuhan terakhir perahu Nabi Nuh.

FOXNEWS| KODRAT SETIAWAN

Islam dan Cinta

Written By SieR on Thursday, February 25, 2010 | 5:40 PM


Ada ungkapan terkenal tentang cinta bahwa cinta itu buta. Ketika seseorang mencintai kekasihnya, matanya buta untuk melihat kekurangan kekasihnya itu. Jika pun ia menyadarinya ia tidak mau tahu. Rasulullah pun dalam hal ini bersabda:


"حبک للشیئ یعمی و یصم"
(hubbuka lisy-syai yuuma va yusim)
"Kecintaanmu pada sesuatu akan membutakanmu dan menulikanmu." 1

Islam juga memberikan bimbingan kepada kita untuk mengetahui siapa sebenarnya kekasih kita yang sejati. Dalam hal ini Imam Ali bin abi Thalib berkata:


"من احبک نهاک"
(man ahabbaka nahaka)
"Orang yang mencintaimu akan mencegahmu." 2

Penjelasan dari hadis tersebut adalah bahwa orang yang mencintai akan mencegah kekasihnya dari perbuatan munkar dan menjauhkannya dari segala keburukan yang akan merugikan dirinya.

Masih banyak lagi masalah cinta dalam Islam, misalnya bagaimana Islam menjelaskan tentang kecintaan kita terhadap keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Imam Ali as berkata:


"القرابة الی المودة احوج من المودة الی القرابة"
(alqarabatu ilal mawaddati ahwaju minal mawaddati ilal qarabah)
"Kedekatan itu lebih membutuhkan cinta daripada tuntutan cinta terhadap kedekatan."

Ini berarti kita dituntut untuk lebih mencintai kekasih, keluarga, sanak saudara, tetangga, dan orang-orang disekitar kita. Karena mereka lebih dekat dengan kita. Kita dituntut untuk lebih peduli terhadap mereka, dan cinta adalah unsur yang tidak boleh dilupakan dalam hal ini. Namun di sisi lain, kita boleh jadi mencintai seseorang yang tidak dekat dengan kita. Sebagaimana jika seseorang mencintai atau mengidolakan seorang tokoh tekenal nun jauh di sana.

Namun kecintaan yang paling mulia dan tertinggi dalam Islam adalah kecintaan hamba terhadap Tuhannya. Dalam Al-Quran surat At-Taubah ayat 24 disebutkan:
"Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq."

Jadi kesimpulannya, sebesar apapun kecintaan kita kepada hal-hal lain, jangan sampai melebihi cinta kita kepada Allah swt.

1- Ghurarul hikam: 6314, 7718, 2703
2- Ibid
3- Nahjul Balaghah: Alhikmah 308

(indonesian.irib.ir)



Mendagri Italia: Bunda Maria Saja Pakai Jilbab, Jadi Kenapa Jilbab Harus Dilarang

Written By SieR on Thursday, February 18, 2010 | 4:25 PM


Menteri dalam negeri Italia Guiliano Amato, menentang pelarangan memakai jilbab di negaranya.

Menteri Italia itu berkata: “Alasan saya menentang pelarangan menggunakan jilbab, sangat jelas dan sederhana, perwaan bunda Maria ibu kandung dari Yesus Kristus sendiri mengenakan jilbab di kepalanya, Bunda Maria juga wanita yang paling suci dalam sejarah, dan juga satu-satunya wanita yang namanya di sebutkan di dalam Al-Quran kitab suci umat Islam.

Dia menambahkan: “Jika perawan Maria mengenakannya, saya ingin bertanya bagaimana para wanita bisa menentang orang mengenakan jilbab?”

Kalangan ekstrimis di Italia, telah mengkampanyekan pelarangan menggunakan jilbab di negara ini, seperti yang terjadi di beberapa negara tetangga Italia.

Pada bagian lain, seorang muslimah keturunan Yordania telah mengkonfirmasi bahwa dirinya dilarang memasuki wilayah AS, karena mengenakan jilbab dan ia telah menjadi sasaran interogasi yang melecehkan dirinya yang dilakukan oleh agen-agen AS.

Ayyatu Manna’ (25 tahun) seorang warga negara Kanada keturunan Yordania yang baru menikah dan tinggal di provinsi Nova Scotia Kanada timur, akan mengunjungi suaminya yang berada di Amerika serikat, namun dirinya terkejut sewaktu petugas bandara tidak memperbolehkan ia naik pesawat di bandara kota internasional kota Stanfield Ervaks di Nova Scotia, pelarangan ia menaiki pesawat bukan hanya karena dirinya seorang muslimah, ia dikecualikan dari penumpang lain karena dirinya mengenakan jilbab.

Dia menambahkan bahwa seorang petugas bea cukai dan penjaga perbatasan AS sempat menginterogasi dirinya selama 4 jam, dan mengambil tanda dirinya kemudian menggiringnya keluar dari bandara.(fq/imo/EM)

Teladan di Jalan Dakwah

Written By SieR on Monday, February 8, 2010 | 3:28 PM


Al-Qudwah atau yang disebut dengan kata Al-Uswah bermakna contoh atau teladan. Kalimat yang tidak asing di telinga kaum muslimin apalagi bagi para aktifis dakwah. Al-Qqudwah merupakan dharuriyyatul hayat (keniscayaan) bagi kehidupan alam semesta, sebelum menjadi dharuriyyatul-Islam dan dharuriyyatud-dakwah.

Setiap makhluk menirukan apa yang dilakukan oleh para pendahulunya. Secara zhahir hal ini bisa kita fahami sebagai buah keteladanan, di samping kita meyakini ada hidayah[1] Allah bagi mereka. Anak kambing mengikuti induknya memakan rumput, anak kerbau ikut berkubang di dalam lumpur menirukan induknya, dst.

Di dalam Islam keteladanan itu menjadi sangat penting. Allah swt menjadikan Rasulullah Muhammad saw sebagai teladan bagi kaum muslimin.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” QS. Al Ahzab.

Dalam beberapa hal Rasulullah saw mengharuskan umatnya untuk menirukan apa yang dilakukannya, antara lain:

وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

{ صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Malik Ibnu Al Huwairits ra berkata. Rasulullah saw bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.” Al-Bukhari

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: “خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ” رَوَاهُ أَحْمَدُ ومُسْلِمٌ وَالنَّسَائِيُّ

Dari Jabir bin Abdullah ra bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Ambillah dariku manasik (haji) kalian.” Ahmad, Muslim, dan An Nasa’i

Dan banyak lagi dalil-dalil yang menegaskan bahwa keteladanan adalah bagian penting dari ajaran Islam.

Dalam konteks berjamaah atau berorganisasi, keteladanan menjadi sangat penting lagi peranannya. Kekuatan berjamaah berada pada kerjasama harmonis imam dan makmum, kerjasama yang dibangun berdasarkan keteladanan.

Shalat berjamaah bisa berjalan dengan baik ketika hubungan keteladanan itu berjalan dengan harmonis. Makmum dengan tulus mengikuti imamnya dan imam dengan penuh perhatian memimpin makmumnya menjalankan shalat.

Rasulullah menegaskan kepada makmum untuk mengikuti contoh imamnya.

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُون موطأ مالك – (ج 1 / ص 394)

”Sesungguhnya imam itu ditunjuk untuk diikuti, jika imam shalat dengan bediri maka shalatlah kamu dengan berdiri, dan jika imam ruku’ maka ruku’lah kamu, dan jika ia bangun maka bangunlah kamu, dan jika ia membaca ”Sami’allahu liman hamidah” maka bacalah: Rabbana walakalhamdu. Dan jika imam shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk semua.” Muwaththa’ Malik

Demikian juga Rasulullah menegur imam yang tidak memahami keadaan riil makmumnya.

إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيهُمُ الْكَبِيرَ وَالسَّقِيمَ وَذَا الْحَاجَةِ ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ عَنِ ابْنِ أَبِى عُمَرَ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ.

“Sesungguhnya di antara kalian ada yang menjauhkan (dari Islam), maka siapa saja yang mengimami (shalat) kaum muslimin hendaklah meringankan. Karena di sana ada orang tua, sakit dan yang punya hajat.” Muslim, dari Ibnu Abi Umar, dari Sufyan bin Uyainah

Ikhwah fillah rahimakumullah.

Para dai adalah qudwah, terutama bagi orang-orang bertaqwa. Inilah doa dan harapan Ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang) yang dijanjikan surga di akhirat kelak.

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Al Furqan.

Ia perbaiki dirinya untuk bisa menjadi teladan bagi isteri dan anak-anaknya. Ia perbaiki keluarganya untuk dapat menjadi teladan bagi orang-orang bertaqwa di sekelilingnya.

Bukan sembarang keteladanan yang dicontohkan, tetapi teladan yang bisa diikuti orang-orang bertaqwa yang mengharapkan janji Allah, meyakini akhirat, dan banyak mengingat Allah.

Inilah fokus keteladanan yang sangat diharapkan di jalan dakwah. Keteladan untuk mengantarkan orang memperoleh janji Allah. Keteladanan untuk mendapatkan akhirat yang baik. Keteladanan untuk senantiasa mengingat Allah.

Dari itulah Allah tegaskan keteladanan Rasulullah saw dengan sebutan USWATUN HASANAH, bukan sekedar uswah. Sebab jika keteladanan yang ditampilkan tidak bernilai kebaikan atau bahkan membuat orang jauh dari kebaikan, justru akan menjadi investasi dosa seperti dalam hadits Rasulullah saw.

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ صحيح مسلم – (ج 6 / ص 342)

“Barang siapa yang memulai kebaikan dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan di belakangnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang memulai keburukan dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya, dan dosa para pengamal sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” Muslim.

Ikhwah fillah rahimakumullah.

Dari itulah para dai harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi, untuk mencontohkan apa yang menjadi kebaikan umat menggapai akhirat, dan menjauhkan diri dari semua sikap dan tindakan yang membuat umat tidak berharap kepada Allah, mengganggu iman mereka kepada negeri akhirat, dan mengurangi dzikir mereka kepada Allah.

Inilah kewajiban mendasar para dai, mencontohkan gaya hidup untuk menggapai kebahagiaan akhirat, karena hal ini tidak bisa dicontohkan oleh siapapun selain para dai. Wanahnu du’atun qabla kulli sya’in (dan kita adalah para dai sebelum berpredikat apapun). Berbeda dengan tujuan dunia, siapapun bisa menjadi contoh tanpa harus menjadi dai.

Materi tarbiyah kita tidak akan efektif merubah keadaan jika tidak diaktualkan dalam kehidupan keseharian. Dan aktualisasi materi-materi tarbiyah itu tidak akan efektif tanpa adanya keteladanan yang baik dari setiap kader dakwah di semua level sosial.

Allah swt menghadirkan sosok Nabi Ibrahim dan kaumnya dalam mengaktualkan nilai-nilai keimanan:

4. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” QS. Al Mumtahanah

6. Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. QS. Al Mumtahanah

Allah swt mencela orang yang banyak berbicara tapi tidak menjadi amalan nyata:

2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. QS. Ash Shaff

44. mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? QS. Al Baqarah

Abu Utsman Al Hairi (seorang ulama zuhud) mengatakan:

فِعْلٌ مِنْ حَكِيْمٍ فِي ألْفِ رَجُلٍ أنْفَعُ مِنْ مَوْعِظَةِ ألْفِ رَجُلٍ فِي رَجُلٍ

”Satu contoh perbuatan dari seorang bijak untuk seribu orang lebih efektif dari pada nasehat seribu orang untuk satu orang”.

Ikhwah fillah rahimakumullah,

Ada beberapa situasi yang kami perhatikan sangat membutuhkan keteladanan orang lain, yaitu:

  • Ketika hendak mengamalkan teori yang telah ia pelajari,

Betapa sulitnya mengerjakan shalat –meskipun telah mengetahuinya teorinya dengan baik- jika tidak ada contoh teladan nyata. Inilah tabiat semua ilmu amaliah, tidak cukup dengan kumpulan teori, tetapi lebih efektif dengan contoh teladan. Dan kita telah sepakat untuk meyakini dan mengatakan bahwa Islam adalah agama amal, tidak sekedar ilmu, dakwah ini adalah amal, bukan sekedar materi. Imam Hasan Al-Banna memberikan salah satu sub judul risalahnya:

هَلْ نَحْنُ قَوْمٌ عَمَلِيُّوْنَ ؟

Apakah kita kaum pengamal?[2]

Betapa banyak materi tarbiyah yang dahulu hanya ada di white board, sekarang harus riil dalam kehidupan. Maka sangat dicari siapa yang bisa menjadi teladan rasmul bayan itu dalam kehidupan.

  • Ketika berada dalam kebimbangan

Ketika seseorang berada dalam kebimbangan ilmu yang dimiliki, jalan yang hendak di tempuh, sikap yang harus dilakukan, dst, sangat membutuhkan keteladanan dari orang lain yang dipercaya. Teladan dari orang yang dipercaya dapat merubah ilmu yang telah dimiliki sebelumnya. Alangkah bahayanya jika ia mendapatkan contoh yang salah dari orang yang dipercayainya.

  • Ketika berada dalam tekanan dan situasi yang tidak menyenangkan

Dalam situasi yang tidak menyenangkan seseorang sangat membutuhkan teman, terutama teladan. Al-Qur’an banyak sekali menerangkan hal ini. Ketika Rasulullah didustakan oleh kaumnya, Allah sampaikan bahwa para Rasul terdahulu juga didustakan.[3]Ketika bersedih ditinggal wafat Khadijah dan Abu Thalib yang menjadi salah satu benteng dakwah, Rasulullah bersedih, hingga tahun itu disebut ’amul huzni (tahun duka), Allah kisahkan Nabi Yusuf yang dibuang oleh saudara-saudaranya.

Ketika kaum muslimin menghadapi serangan tentara ahzab (koalisi kafir-yahudi-musyrikin Arab), di musim dingin mencekam, stok makanan menipis. Situasi yang disikapi oleh sebagian orang dengan penyesalan ingin kembali ke padalaman Arab –tidak di Madinah-[4], situasi yang disesali dan dipertanyakan oleh kaum munafiq[5]. Ketegangan suasana itu justru menjadi penguat dan penambah iman bagi para sahabat setelah menemukan keteladanan pada diri Rasulullah saw.

21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

22. dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.

23. di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), QS. Al Ahzab

Dakwah hari ini adalah aktualisasi materi tarbiyah di masa lalu, pengalaman baru, sering berada di persimpangan, dan sering menjadi musuh bersama di medan juang. Maka keteladanan menjadi keniscayaan agar kader dakwah tidak berubah jati diri, militansi, dan harapan mulia.Wallahu a’lam. (dakwatuna.com)


[1] QS. Al A’la, ayat: 3. ”dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,”

[2] risalah Muhimmatul Muslim. Majmu’ Rasail, Hasan Al Banna,

[3] QS. Al An’am, ayat 34

[4] QS. Al Ahzab, ayat 20

[5] QS. Al Ahzab, ayat 12-15

Dakwah zaman nabi dan zaman kini

Written By SieR on Sunday, February 7, 2010 | 5:59 PM

Sistem pendidikan perlu dimajukan ke arah kejayaan menyeluruh Sejak kebelakangan ini, saya banyak membuat kajian kepada sistem pendidikan dengam merujuk kepada pelbagai sumber rujukan. Saya amat berminat dengan subjek ini kerana ia ada kaitan dengan arah tuju serta sekolah yang Hajar dan Adam - dua anak kesayangan saya - akan bersekolah pada masa akan datang. Banyak sekolah yang baik saya dengar dan tahu seperti Sekolah Rendah Islam dan Sekolah Agama yang dibangunkan oleh pelbagai organisasi. Sekolah yang dibangunkan oleh kerajaan? Bagus. Tetapi saya rasakan ada ruang untuk dimajukan. Pada zaman Rasul, tiada sekolah? Atau apa kepentingan sekolah?

Sebenarnya zaman Rasul sudah ada sekolah. Asas sekolah adalah untuk mencari ilmu. Zaman Rasul, ia ditunjukkan dengan perjumpaan di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Kebanyakan pelajar-pelajarnya dewasa. Anak kecil? Saya tidak berjumpa lagi sumber menerangkan proses pembelajaran ini. Jika diperhati pada Rasul, baginda tidak ke sekolah. Seawal 12 tahun, sudah mengembara untuk berniaga. Seawal itu juga seudah menggembala kambing. Namun saya pasti ada proses pembelajaran. Cuma tidak sama dengan keadaan sekarang yang berbangunan, ada guru, ada uniform dan pelbagai pembaharuan yang ada.

Bilakah pendidikan menjadi lebih formal?

Kalau diperhatikan, pendidikan menjadi lebih formal dan diperbaiki sistemnya pada zaman Nabi setelah tertegaknya Madinah. Apabila ada tentera yang ditawan dalam Perang Badar, mereka diarahkan untuk mengajar si anak-anak. Lebih diatur berbanding di Mekah. Sistem pendidikan menjadi lebih formal apabila kita menyemak kisah zaman Umayyah, Abasiyyah dan seterusnya. Ada bangunan, ada pendidik yang formal dan ada sijil ijazah yang akan dikurniakan jika berjaya mencapai kejayaan. Ia makin formal dan diatur.

Untuk apa pendidikan itu?

Ia untuk memajukan masyarakat atau ummah. Ia adalah untuk mengenalkan individu kepada kebenaran. Ia adalah usaha untuk membaiki apa yang sedia ada. Cuma ia agak berlainan prosesnya pada zaman Renaissance dengan zaman kini. Asasnya tetap sama: perlu ada guru, murid dan bahan yang ingin dipelajari.

Atas dasar itu, dalam memahami kehidupan dalam pendidikan, asasnya tetap sama. Apa juga peristiwa dalam hidup ini akan mempunyai pola dan tatacara yang diadun oleh undang-undang universal. Dalam bahasa Arab, ia diistilahkan sebagai fitrah atau sunnatullah. Cuma sudah tentu pengalaman belajar akan berbeza dahulu dan sekarang. Hatta kalau seseorang ke universiti A tahun ini dan tahun hadapan, pasti ia memberi kesan berbeza kalaupun bangunan dan sistem yang diguna adalah sama. Perbezaan ini wujud kerana ada komponen masa.

Masa berubah

Kerana masa berubah, ia berjaya mengumpulkan pemboleh ubah atau faktor yang berlainan bagi memberi impak berlainan untuk setting yang 'sama'. Jika anda belajar di sekolah A tahun ini tidak semestinya memberi kesan yang sama jika anda belajar tahun depan. Ini disebabkan masa berubah. Perubahan masa ini menjadikan sistem leboh kompleks untuk difahami secara linear.

Tidak mungkin melalui sesuatu perkara 2 kali kecuali pasti ada perbezaannya. Atas dasar itu, amat penting kita mengambil pengajaran kata-kata Socrates:

Socrates: Heracleitus is supposed to say that all things are in motion and nothing at rest; he compares them to the stream of a river and says that you cannot go into the same water twice.

Asas Ilmu untuk Dakwah

Rasul mengajar ilmu untuk digunakan dalam diri dan menyampaikan pada yang lain. Tidak ada beza antara zaman Nabi dan sekarang tentang pentingnya menuntut ilmu. Cuma yang beza, ilmu pada zaman Rasul itu untuk diamal dan mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi zaman sekarang, banyak faktor sudah berubah. Ilmu juga sepatutnya dituntut untuk membaiki keadaan masyarakat. Itulah yang akan mendekatkan diri kita kepada zamn Nabi.

Sistem dakwah yang akan dilalui juga akan 'sama' dan 'lain'. 'Sama' kerana ia adalah dakwah. 'Lain' kerana individu zaman sekarang yang berdakwah sudah bergelumang dengan pelbagai faktor yang mengotorkan jalan perjuangan sehingga cabaran zaman kini lebih mencabar - bukan sahaja dari luar tetapi diri si pendakwah itu sendiri. Sistem dakwah tetap sama tetapi banyak faktor-faktor temporal sudah berubah. Ini perlu difahami untuk meluaskan hati ketika menghadapi dugaan di atas jalan dakwah. (st-gallery.com)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Barito Putra - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger